Merdeka Belajarku berubah HALUAN (Resume Pelatihan Menulis)

Merdeka Belajar Indra Charismiadji
Bapak Indra Charismiadji sumber foto: http://www.indracharismiadji.com/















































Pelatihan menulis Online di hari ke-19 
Hari Senin, 3 Februari 2020
Bapak Indra Charismiadji 

MERDEKA BELAJAR INDRA CHARISMIADJI

Sudah 20 hari penulis mengikuti pelatihan online yang digagas oleh salah satu bloger ternama di Indonesia yaitu Om wijaya kusumah. Salah satu materi yang kami ikuti saaat itu bersumber langsung dari Bapak Indra Charismiadji, beliau adalah ahli, pemerhati dan pengamat pendidikan Indonesia.
 Materinya sangat menarik dan kekinian yaitu tentang MERDEKA BELAJAR, tahukan frase yang sedang di dengungkan Mas Nadhiem Bapak Menteri Pendidikan Idola, sebagai program pendidikan yang beliau ingin capai.

Diskusi dimulai dengan dibuka pertanyaan yang diajukan oleh Bapak Indra kepada 250 guru se-Indonesia Raya ini

"Malam ini materi saya tentang Meredeka Belajar. Apakah Bapak Ibu sudah paham dengan konsep Merdeka Belajar??"

Berbagai jawaban diutarakan oleh para Bapak Ibu Guru malam itu:
- belum pak-
-belum juga pak-
-saya nyimak dulu saja pak, tidak paham-

Pak Indra melanjutkan dengan penjelasan profil diri dan mengajukan kesempatan untuk Bapak dan Ibu guru peserta bertanya kepadanya tentang profil beliau. Satu persatu pertanyaan diajukan dan beliau mulai menjelaskan. Hal yang ingin penulis tanyakan rupanya telah dulu ditanyakan seorang teman yaitu tentang apa yang memotivasi Bapak Indra ini hingga sangat aktif dalammengkritik atau mengkritisi bidang Pendidikan. Sekedar informasi beberapa tulisan beliau memang sempat viral di Facebook tahun lalu tentang kritisi beliau mengenai guru, sertifiikasi, komptensi serta minat literasinya. Pro dan kontra selalu ada, tetapi malam itu tidak membahas itu ya. Kami menanyakan secara umum aktivitas beliau yang merupakan pemerhati pendidikan.

Pak Indra menjelaskan kembali  bahwa banyaknya masalah dalam dunia pendidikan di Indonesia tetapi kenyataanya tidak banyak pemerhati yang menyuarakan "masalah" tersebut, itulah yang mendorong Pak Indra untuk menyuarakannya, mengkritisinya. Pak Indera menunjukkan screen shoot pesan dari Bapak menteri pendidikan untuk Bapak Indra sebagai berikut:

"Please Be Loud.. and support the Initiatives. Most omportant to make apeople know is the burning urgency to CHANGE.That administrasi pendidikan is NOT pembelajaran and we need to shift to real LEARNING"

Hasil diskusi Pak Indra dan Mas Menteri menyatakan bahwa pendidikan Indonesia belum bisa membedakan antara ilusi learning dengan Real Learning.

Menarik sekali poin disini, disaat semua mendengungkan ada perubahan dalam dunia pendidikan kita sibuk dengan kelengkaan administrasi tetapi lupa bagaimana ompementasi REAL nya dalam pemeblajaran di KELAS.

Menurut pendapat saya untuk diskusi antara Bapak Indra C and Mas menteri alias Bapak Nadhiem sang menteri.  It's totally Right !!  

Menurut Pak Indra ada hal yang perlu di ketahui bersama oleh Bapak Ibu guru pendidik tentang program Bapak Presiden Jokowi, target yang cukup berat dari Presiden di tahun 2045.

Indonesia 2045 sebagai NEGARA MAJU, Bu Sri Mulyani sebagai menteri keuangan Indonesia dengan Optimis menjabarkan potensi-potensi yang dimiliki Indonesia. Seperti pada slide yang telah di share bapak Indra sebagai berikut :








Target yang cukup berat tersebut akan tercapai dengan memenuhi beberapa hal, salah satunya adalah Pembenahan Sumber daya manusia (SDM). Pak Indra menyatakan jika terkait target ini pula mengapa Mas Menteri pendidikan mengeluarkan kebijakan MERDEKA BELAJAR.

Pak Indera membuka pertanyaan kembali tentang konsep MERDEKA yang kami pahami, bagaimana kami mengartikan KEMERDEKAAN dan mengapa MERDEKA itu sangat penting.  Memahami arti merdeka sebelum masuk ke arti MERDEKA BELAJAR.

Berikut beberapa jawaban yang diungkapkan peserta, beberapa di respon oleh bapak Indra .

- Merdeka artinya ada kebebasan yang bertanggung jawab...kebebasan yang terarah-
Respon Pak Indra: Siapa yang mengatur arahnya?
-Merdeka itu adalah saat kita terbebas dari tekanan siapapun, dimanapu dan kapanpun pak-
Respon Pak Indra: Bagaimana dengan pribahasa, Intan adalah hasil dari batu arang yang kuat menahan TEKANAN?
-Merdeka artinya kebebasan yg bertanggung jawab. Kita punya kewenangan dalam menentukan keputusan.  Seperti bangsa yg merdeka dan sdh tdk terjajah dgn negara lain-
Respon Pak Indra: Paling mendekati.


Sebuah slide dari Bapak Indra muncul dan tertulis:
FREEDOM is a state of MIND - Kemerdekaan adalah sebuah kondisi PIKIRAN
Banyak yang telah mendefinisikan tentang MERDEKA, salah satu arti merdeka yang tepat bagi Bapak Indra Charismiadji yaitu arti KEMERDEKAAN atau FREEDOM menurut  Walter Mosley diatas.  Note: Walter Mosley adalah seorang novelis asli Amerika Serikat. 

Pak Indra menambahkan Jika Kemerdekaan diartikan sebagai KONDISI pikiran maka Kemerdekaan itu berhubungan dengan TINGKAT NALAR seseorang.  Tingkatan Nalar sendiri berkaitan dengan pokok bahasan yang sering dibicarakan para guru yaitu REVISI TAKSONOMI BLOOM.
Perhatikan gambar berikut (slide berasal dari materi B. Indra C)


Merdeka Belajar Indra Charismiadji


Tingkatan C1 adalah menghafal. 

Jika anak didik kita masih menggunakan SKS atau Sistem Kebut Semalam untuk menyiapkan diri menjelang ujian atau sebuah tes/UH esok hari.  Maka pendidikan Indonesia tidak akan pernah MERDEKA.  Tingkat nalar rendah yang hanya mengingat akan dilupakan begitu saja manfaatnya,
Segala sesuatu yang kita lakukan secara berulang-ulang akhirnya terekam di otak kita.

short term memory --long term memory , maka baru kita sebut sebuah kepahaman.  Jadi memahami adalah sesuatu yang kita lakukan secara berulang-ulang.


Tingkatan C2 adalah memahami
Segala seseuatu yang kita lakukan secara berulang-ulang akhirnya terekam di otak kita. Maka ada peralihan dari short term memory --> long term memory ,

maka baru kita sebut sebuah kepahaman. Jadi memahami adalah sesuatu yang kita lakukan secara berulang-ulang.
Tingkatan C3 adalah aplikasi

Pada tingkat C3 artinya anak sudah bisa melakukan. Manusia bisa melakukan apa yang mereka pelajari bukan hanya sekedar teori saja.


Pak Indra memberikan contoh  jika seorang guru memberikan sebuah soal kepada siswa.
Di mana kalian membuang sampah?
A. laut
B Sungai
C pinggir jalan
D tempat sampah

Apa kira-kira jawaban dari siswa-siswi Anda terhadap soal tersebut?
-----------Jika jawabannya di tong sampah, dan siswa mendapat nilai 100.

Pertanyaan berikutnya: 

Apakah dalam kehidupan sehari-hari mereka memang mampu membuang sampah di tempat sampah atau mereka hanya tahu jawaban dalam bentuk teori saja?
-----------Teorinya membuang sampah di tempat sampah, tetapi praktiknya dalam kehidupan sehari-hari mereka membuang sampah sembarangan.

Dari contoh sederhana ini kita tahu, 
siswa masih berada dalam tingkat berpikir yang rendah.  Tingkatan siswa yang hanya tahu dari menghafal membuang sampah pasti di tong sampah (C1).  Jika siswa tahu teorinya saja dan bisa menjawab soal tanpa praktik karena telah dilakukan berulang-ulang hingga menjadi long term memory maka C2.  Sedangkan sisw ayang berada di level C3 sudah hingga pada aplikasinya, mereka sudah bisa melakukan apa yang mereka pelajari.


Jadi itulah sebabnya level C1 itu level Nalar yang paling rendah dan C2 lebih sedikit di atasnya, C3.

KENYATAAN ILLUSION of LEARNING
Tingkat nalar manusia itu akan berhubungan dengan bagaimana kita memberikan pembelajaran di dalam kelas. Kelihatannya seperti belajar, tetapi sebenarnya itu hanya ilusi yang harus kita perbaiki dengan konsep Merdeka belajar.

mengapa C3 ini masih ditempatkan sebagai tingkat nalar yang rendah atau lower order thinking skill? Apakah anak SD tidak boleh di level C6?
Mengapa C3 tingkat mengaplikasi dianggap sebagai nalar yang rendah walaupun sudah bisa melakukan sesuatu materi. Misalnya, guru disuruh membuat RPP, begitu ditanya kenapa menyusun RPP-nya panjang-panjang, kemudian menjawab karena diperintahkan sepertu itu. Itulah konsep berpikir nalar yang masih di tingkat C3, tidak bisa melakukan tapi tidak pernah tahu mengapa melakukannya seperti itu, hanya tahu yang wajib seperti itu.

Tingkatan C4 adalah analisis
level C4 itu sudah melakukan, tetapi tahu apa yang dilakukan.
Contohnya,
anak-anak bisa membuang sampah di tempat sampah.
Ketika kita tanya:  kenapa kamu buang sampah di tempat sampah?
jika jawaban mereka :
kalau buang sampah sembarangan nanti mengurangi keindahan, akan muncul bau yang tidak sedap, nanti muncul banyak lalat, mengundang datangnya tikus, akan menimbulkan penyakit, dapat menimbulkan banjir, dan sebagainya.

Jika siswa kita menguraikan jawaban mengapa alasan membuang sampah di tong sampah dan mengetahui dampak yang akan terjadi jika tidak dibuang di tong sampah yang muncul dari dalam diri sendiri maka nalaatau level berpikirnya di tingkat C4

Level C5 ini ada proses mengevaluasi
mereka melihat sampah bukan sekadar sampah. 
Sampah memang perlu dibuang di tempatnya, tetapi mereka bisa melihat sampah ini adalah sampah plastik. 
Plastik itu tidak bisa diurai sampai 25 tahun, untuk itu akan saya pisahkan antara sampah plastik dengan sampah kertas sampah organik dan yang sebagainya. 
Pada level ini orang sudah bisa mengevaluasi tindakannya. 
Jadi, menganalisis tindakannya, bukan tindakan orang lain. C5  adalah evaluasi tindakan yang ada cara yang lebih baik dari devaluasi tindakannya.

C6 tingkat berpikir manusia yang paling tinggi adalah menciptakan
Dalam konteks membuang sampah, anak melihat sampah bukan sekadar sampah, tetapi sudah berpikir bagaimana caranya kita bisa membuat pupuk kompos, bagaimana caranya bisa didaur ulang atau tidak harus dalam bentuk produk. 
Misalnya, membuat sebuah gerakan kita mau bikin gerakan sekolah bersih sampah atau gerakan kampung bersih dari sampah, ini sudah levelnya C6. 
Jadi, yang disebut C6 itu tidak selalu harus punya produk yang baru, tetapi membuat sebuah gerakan membuat sebuah perubahan itu juga sudah levelnya mencipta. Inilah bedanya tingkat berpikir C1, C2, C3, C4, C5, dan C6. 
Tingkat C6 adalah tingkat nalar tertinggi atau orang yang paling cerdas adalah orang bisa menciptakan, sedangkan tingkat nalar terendah adalah mereka yang hanya bisa menghafal.

Apa yang terjadi kalau proses belajar hanya sampai menghafal?

LOTS = Lower Order Thinking Skill, adalah kemampuan nalar terendah 
Mereka hanya tidak punya pilihan dan tidak paham mengapa harus melakukan sesuatu

HOTS= Higher Order Thinking Skill,  
orang-orang di level C4, C5, dan C6 selalu punya pilihan karena mereka bisa menganalisis. 
Analisis pun tidak tidak biner yang tidak satu dan nol bukan hanya pilihannya, hanya mau melawan dan tidak melakukan tetapi bisa menjelaskan mengapa saya melakukan ini. Nah, itulah orang-orang yang merdeka.


Pak Indra menunjukkan kami sebuah video, terkait dengan social experiment


Terlihat bagaimana seseorang yang berada di sebuah klinik dokter setiap bunyi bel "Tiiit" orang-orang di sekitarnya berdiri. Nah kita lihat dia itu berdiri, yang yang melihat di sebelahnya berdiri akan berdiri juga tanpa tahu alasan berdiri. 
Mungkin kita sering mendengar konsep artifisial intelijen machine learning dan sebagainya yang menjelaskan seakan-akan teknologi komputer mereka. Memang bisa mengambil data begitu banyak dan cepat sebegitu presisi tapi tidak ada satupun mesin teknologi komputer yang bisa menjawab mengapa melakukan ini. Mereka tidak tahu, mereka hanya melakukan ini karena perintahnya.
ada yang menarik,
Beliau bertanya ke teman-teman di asosiasi, mengapa kita kekurangan programmer, apa ilmunya yang salah? 
Guru-guru penggerak adalah guru-guru yang bisa bergerak tanpa perintah-perintah tanpa ada juknis, tanpa ada Permendikbud, tetapi bisa menjalankan langkah untuk bagaimana membawa anak-anak Indonesia ini menjadi kekuatan ekonomi nomor 5 terbesar di dunia pada tahun 2045.
Mengenai kolaborasi secara singkat beliau menjelaskan, kalau kita mau menganalis tidak ada karya manusia yang diciptakan sendiri, artinya semua ciptaan manusia itu adalah hasil kolaborasi atau ada sentuhan orang lain.


Contoh lain dalam kehidupan sehari-hari, 

selama beliau berkeliling Indonesia memberikan pelatihan ke banyak guru selalu beliau bertanya ke beberapa dari mereka,  "Bapak ibu, Anda ke sini naik apa?" Sebagian besar mengatakan naik sepeda motor, ada juga yang naik mobil, sudah tidak ada jawaban jalan kaki. Kepada mereka yang naik sepeda motor beliau tanya, "Anda pakai helm?" Mereka itu menjawab "Iya kami pakai helm." "Kenapa nggak pakai helm?"
Kepada guru yang menjawab naik mobil juga ditanya, "Apa Anda pakai sabuk pengaman dan pakai seat belt?"
"Iya Pak," sahut mereka.
 "Kenapa nggak pakai sabuk pengaman?"
Selama ini semua guru yang pernah menghadapi pertanyaan tersebut akan sama jawabannya dengan mereka mengatakan saya pakai helm,
"Saya pakai sabuk pengaman supaya tidak ditangkap polisi, supaya tidak ditilang," dan tidak ada yang menjelaskan kepada beliau agar kepala terlindungi dari bahaya kecelakaan.
Jadi, inilah bedanya level C3 dan C4. Walaupun sama-sama melakukan, C3 akan menjawab," Saya pakai helm biar nggak ditangkap Polisi," maka tingkat nalarnya lebih rendah.

Inilah kurang lebih bedanya C3 dan C4, walaupun sama-sama melakukan.


MERDEKA BELAJAR 
Maka pak Indra melanjutkan konsep merdeka belajar yang dimaksud disini adalah:
Merdeka proses berpikirnya, nalarnya yaitu di minimal LEVEL C4

Beberapa guru termasuk penulis, mengira jika tingkatan kognitif itu hanya berhubungan dengan soal saja.  Ternyata dari sini kita paham mengapa soal HOTS menjadi sebuah yang fenomenal dalam setiap kegiatan ujian.  Siswa yang berhasil dalam ujian HOTS memang siswa yang mendapatkan pelatihan dan pembelajaran yang HOTS berulang kali oleh guru di kelas.  HOTS perlu dilatihkan dan porses berpikir minimal C4 itulah MERDEKA BELAJAR.

Inilah yang dibutuhkan oleh bangsa Indonesia ini, berhubungan dengan tantangan di era 4.0 yang semakin banyak pekerjaan yang hilang karena digantikan oleh teknologi oleh robot dan pekerjaan. Pekerjaan tersebut adalah pekerjaan pekerjaan yang menggunakan tingkat nalar yang rendah bisa kita lihat listnya.

Contoh pekerjaan administrasi mengetik, memesan tiket, memesan makanan, menjawab telepon, itu semua tingkat nalarnya rendah bisa digantikan oleh teknologi. Ini tantangan kita.
Pak Indra  menambahkan, ada kajian yang mengatakan, 65% dari siswa yang berada di bangku SD saat ini nantinya akan bekerja di bidang yang hari ini belum tercipta.
Dengan kata lain, 65% dari anak-anak kita ini dituntut untuk bukan menjadi pencari kerja, tetapi menjadi pencipta lapangan pekerjaaan karena mereka akan bekerja di bidang yang sangat baru, yang saat ini belum ada, dan sangat mungkin.

Teknologi baru, ilmu baru bukan tida kmungkin terlahir dari anak didik kita sekarang. Seperti adanya Facebook, Instagram, Google yang dulu belum ada saat kita sekolah.
Inilah kenapa kita sebagai guru butuh MERDEKA BELAJAR,
Guru harus merdeka..dengan memiliki cara berpikir tingkat tinggi terlebih dahulu baru kita kan mampu me-MERDEKAKAN siswa kita.

Siswa kita tidak berhenti di level C1 tapi mereka dituntut untuk di level C6 karena pekerjaan yang ada bidang yang ada tinggal tersisa 35% saat mereka waktunya bekerja nanti.



MERDEKA BELAJAR, Versi para guru peserta pelatihan:

Merdeka belajar artinya guru bebas berkreativitas memfasilitasi pembelajaran dan tidak monoton di kelas dan siswa bebas berkreativitas mengalami belajar dengan interaksi antar siswa maupun dengan gurunya-


Merdeka belajar yg saya tangkap adalah siswa diajari untuk bisa punya pilihan sendiri yg selama ini pilihan ini harus di merdekakan.Misal, di masa depan, siswa yg sdh tumbuh dewasa bekerja di berbagai bidang. Jangan malu hanya di satu profesi, berpindah2 profesi atau berpindah2 tempat kerjaan justru lebih baik.  Di masa datang jangan kaget menemui orang yg bercerita kalau dia pernah menjajal 21 profesi: pernah jd waiter, writer, teacher, ojeker, marketer, analist, sampai intelegen...

-Menurut saya murid dan guru bisa mendapatkan  suasana yang bahagia-

-merdeka belajar artinya siswa tidak lagi dengan batasan mapel yang paket harus dikuasai,, makanya UN dihapuskan karena 5 mapel UN SMP misalnya jadi target lulus dan masuk sekolah fav .. padahal setiap anak memiliki otensinya sendiri,,, merdeka artinya mereka memiliki potensi yang bisa bebas dia kembangkan tanpa khawatir itu bukan mapel UN .. karena memang kenyataanya belum merdeka siswa yang hebat di mapel seni .. mereka tetap harus bisa mapel UN untuk lulus- Pemahaman penulis.

Tingkatan berpikir yang paling rendah yaitu sekedar menghafal materi atau pengetahuan.  

Pendapat Pak Indera tentang Guru Penggerak
Pak Indra mengatakan definisi Guru Penggerak menurut ilmu dari Roger (sayangnya pak Indera tidak menjelaskan siapa Roger dan darimana sehingga penulis tidak bisa menjelasan dengan detail dan tidak dapat bertanya balik karena keterbatasan waktu).
Guru penggerak menurut Roger dari informasi Bapak Indra adalah Guru Inovator atau Guru Early Adopter.  Guru Inovator hanya 2,5 % dari jumlah populasi guru di Indonesia sedangkan Guru Adopter sekitar 13 % dari populasi guru.   Misalnya ada 3 juta guru Indonesia, sekitar 400 ribu guru early adopter yang nantinya akan mampu menjadi Guru Penggerak, termasuk menjadi penggerak guru lain untuk menjadi BERSATU dan KUAT.
   
Perhatikan slide yang di share Bapak Indra tentang Range Kelompok Guru di Indonesia:

Jack Ma mengatakan, kita tidak bisa mengajarkan anak-anak kita untuk berkompetisi, untuk bersaing dengan mesin karena kemampuan mesin itu lower order thinking skills hanya sampai C3 saja karena mereka hanya menjalankan perintah tapi level C3, C2, C1 nya jauh lebih hebat dalam berkompetisi dengan mereka.


Jack Ma: Everything we teach should be different from machines




Kesimpulannya adalah kalau manusia manusia itu ingin sukses di abad 21 ini:
tidak bisa berhenti di tingkat Nalar C3 karena C3 itu akan mudah tergantikan oleh mesin. 


Kurikulum 2013  bertujuan untuk menciptakan atau menumbuhkan keterampilan abad 21, kemampuan berpikir kritis, kemampuan berkolaborasi, komunikasi, dan kreatif sejak 6 tahun lalu. Kita tidak akan mungkin bisa berpikir kritis kalau kita nalar masih rendah.

Di level C3 tidak mungkin orang bisa berpikir kritis, tidak bisa berkolaborasi kalau level nalarnya juga baru sampai C3 walau masih bisa komunikasi dengan baik.
Kalau levelnya hanya 3 apalagi kreatif, itulah tantangannya.
Kemampuan berpikir tinggi, minimal di C4 bisa menumbuhkan keterampilan abad 21 dan kolaborasi.

tahun lalu pak Indra diajak berapa kali oleh komite ekonomi dan industri nasional berbicara tentang persiapan atau desain SDM di era digital.
Beberapa narasumber diundang, salah satunya beliau mewakili ide-ide asosiasi e-commerce Indonesia seperti Bukalapak, Tokopedia. Ada asosiasi di toko-toko online. Menariknya, dari mereka mengatakan ternyata Indonesia itu kekurangan programmer. 
Walaupun kita punya banyak sarjana komputer, punya banyak anak lulusan SMK, ternyata kekurangan programmer.  Perusahaan-perusahaan digital saat ini justru lebih banyak menggunakan programmer dari India atau dari Cina dan ini secara resmi ada di websitenya kominfo kalau Indonesia darurat programmer. Ini fakta yang benar, kita punya banyak lulusan SMK.

Jawaban dari mereka sangat mengagetkan.
Mereka mengatakan bahwa bukan karena anak Indonesia yang mampu jadi Superman, tetapi sayangnya tidak ada yang mampu menjadi super TIM. 
Artinya mereka bisa mampu secara hebat bekerja sendiri, tetapi ternyata saat diminta untuk bekerja dalam TIM siswa kita tidak mampu karena mungkin tidak biasa di sekolah diajarkan untuk bekerja dalam tim untuk berkolaborasi dan hal ini mungkin juga harga karena para guru juga tidak mampu berkolaborasi.

Pak Indra melihat dengan mata kepala sendiri saat beliau memberikan tugas kepada para guru dan tugas kelompok. Beberapa guru tidak terbiasa, tidak tahu caranya bekerja dalam kelompok.

Ada kelompok yang terdiri dari 3 orang, satu kelompok 3 orang yang mengerjakan hal yang sama tiga-tiganya, padahal yang dikerjakan adalah hal yang sama sehingga waktunya habis terbuang. 
Di situ juga ada kelompok yang kerja satu orang, yang dua orang lagi hanya menonton temannya bekerja. 
Ada lagi yang mengobrol, yang satunya kerja jadi tapi tidak pernah beliau temui berkolaborasi. Bagaimana 3 orang atau lebih ini bisa membagi tugas bisa saling mengisi hasil yang sangat baik, lebih baik dari kerja sendiri, dan lebih cepat. 
Ini tidak akan terjadi di Tokopedia dan di Facebook, karena pekerjaan ini tidak mungkin dikerjakan oleh seorang programmer, ini bisa membutuhkan puluhan, bahkan ratusan programmer yang bekerja bersama-sama. 

Tentunya mereka harus mampu memiliki kemampuan untuk berkolaborasi, bekerja sama dengan yang lain, bukan sama-sama bekerja. 

Bekerja sama menghasilkan satu yang lebih cepat lebih baik karena punya otak untuk berpikir, pekerjaan juga dibagi bersama-sama.  Ini menunjukkan betapa kemampuan berpikir pada tingkat penalaran tinggi itu memang yang dibutuhkan untuk kita bisa berpikir kritis. 

Menurut Edward De Bono, 
berpikir kritis itu juga disebut convergent thinking atau logical thinking atau vertikal thinking. Pada dasarnya, dia punya beberapa pilihan, tetapi bisa menentukan mana yang terbaik. Jadi disini adalah faktor intrinsiknya, faktor dari dalam diri sendiri, untuk melakukan sesuatu jauh lebih dominan daripada faktor ekstrinsik atau faktor dari luar yang memaksa dihasilkan.
Sebagaimana contoh sebelumnya:
mereka yang membuang sampah di tempat sampah dengan memberikan penjelasan. Kalau tidak buang sampah nanti menimbulkan penyakit, bau, yang nanti cara berpikir nalarnya mindi level C4.



Jadi orang yang berada di level C6 pasti orang yang bisa berkolaborasi. 

Inilah pentingnya berkolaborasi, apalagi hubungannya dengan kita harus menjadikan anak-anak kita adalah pencipta kerja bukan pencari kerja lagi sesuai dengan tantangan industri 4.0. 
Anak dapat memiliki skill  yang kreatif atau disebut juga Divergent thinking yang kalau dia diberi soal-soal, dia punya banyak jawaban yang disebut dengan creative thinking. Untuk bisa ke sana, tentunya nalarnya harus tinggi. 

Tidak mungkin orang yang kreatif , cara berpikirnya level rendah. 

Sayangnya, pendidikan itu justru membunuh kreativitas, hasil kajian Andrian menunjukkan semakin tinggi siswa belajar, semakin lama siswa belajar, semakin mereka tidak kreatif, dan itu yang harus kita perbaiki.

Mengenai bagaimana pemanfaatan nalar tinggi dalam memecahkan masalah sehari-hari 
dimulai dari berpikir kritis dulu, melihat apa masalahnya, kemudian mencari jawabannya, menentukan jawaban secara divergen, bisa berasal dari kolaborasi, bisa kreativitas sendiri, bisa juga hasil komunikasi, dan kemudian menentukan jawabannya dengan convergent thinking lagi atau berpikir kritis. 

Inilah konsep pendidikan pembelajaran abad 21. Konsep merdeka belajar itu sebetulnya adalah buah pikiran dari bapak pendidikan kita, Ki Hajar Dewantoro. 

Mas menteri meluncurkan konsep Merdeka belajar karena yang pertama adalah ini target dari presiden kita, pada tahun 2045 Indonesia harus menjadi kekuatan ekonomi terbesar nomor 5 di dunia, penghasilan masyarakat Indonesia harus 27 Juta perbulan secara rata-rata seluruh Indonesia, dan konsep belajarnya harus diubah harus di level nalar tingkat tinggi, minimal C4 dan didorong untuk sampai C6.

Maka, penulis selama ini memahami meredeka belajar hanya sekedar merdeka.  Merdeka belajar itu diawali kondisi pikiran.
Kemerdekaan adalah tingkat berpikir di level tinggi, minimal C4 menganalisis, C5 mengevaluasi, dan yang terakhir menciptakan C6. 
Yang harus kita dorong adalah pembelajaran yang berbasis nalar tinggi. 
Lupakanlah model pembelajaran hanya menghafal C1, 
hanya tahu teorinya atau bisa melakukan, tetapi tidak tahu mengapa harus melakukan hal tersebut, karena di sisi lain tantangan industri 4.0 harus menjadikan anak kita bahkan berada di level C4.


BAGAIMANA VERSI MERDEKA BELAJAR menurut ANDA setelah membaca ini?

Semua materi Bapak Indra disampaikan dengan voice note Whats App
Menurut beliau, penuturan itu baru membahas yang luarnya, belum mendalam. Kalau ada hal yang ingin didiskusikan beliau bersedia untuk diundang ke sekolah-sekolah untuk menjelaskan konsep Merdeka Belajar.


Belum ada Komentar untuk "Merdeka Belajarku berubah HALUAN (Resume Pelatihan Menulis)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel